| Berbagi Ilmu dan Pengalaman
7 February 2012

FACEBOOK dan MAIYATULLAH

facebookHari gini, siapa yang tidak kenal dengan Facebook. Semua orang, semua lapisan, mulai dari yang berstatus murid SD sampai mahasiswa, kalangan ibu-ibu rumah tangga, arisan PKK,  kelompok pengajian ibu-ibu bahkan pengangguran-pengangguran membicarakan tren baru ini. Tehnologi baru ini  sejenak cukup membuat kita penasaran, sehingga kita terdorong untuk mencari tahu. Kehadiran tehnologi baru ini sangat cepat diterima oleh masyarakat kita, bahkan Indonesia tercatat sebanyak 1,4 juta orang penggunanya (data per maret).

Ada satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa setiap tehnologi baru disamping memiliki kelebihan, juga tidak terlepas dari kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini sangat ditentukan oleh individu pemakainya. Sejauh mana pemakaiannya untuk mendapatkan kebaikan dan hal-hal positif, ini akan menjadi kelebihannya. Namun, ini akan menjadi kekurangan manakala pemakainya tidak memperhatikan nilai-nilai moral maupun agama, sehingga justru menjadikan individu menyimpang dari jalan yang benar.

Perbicangan saya dengan sejumlah ibu-ibu terkait dengan tehnologi baru ini sebagian besar berujung pada masalah kekhawatiran orang tua terhadap putra-putri mereka. Bagaimana mengantisipasi anak-anak dari hal-hal yang negatif tetapi tidak menghilangkan dorongan keingintahuan terhadap tehnologi baru?

MENGENALKAN ALLAH

Dalam shiroh kisah-kisah teladan, pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khottob, ada seorang anak gembala sedang menggembalakan dombanya di padang rumput. Jumlah dombanya cukup banyak, kurang lebih 100 ekor. Pada saat Khalifah Umar melewati tempat tersebut dan melihat domba yang banyak, beliau mengatakan kepada anak gembala itu bahwa beliau akan membeli beberapa ekor domba tersebut. Apa yang dilakukan anak tersebut? Ia mengatakan bahwa domba itu bukan miliknya dan ia hanyalah penggembala. Khalifah umar tetap memaksa anak tersebut untuk menjual domba itu dan memang beliau hendak menguji anak tersebut, kemudian beliau merayu anak tersebut dengan mengatakan   bahwa majikannya tidak akan tahu. Tetapi sekali lagi anak tersebut berkata luar biasa, majikan saya memang tidak akan tahu tapi Allah maha mengetahui segalanya. Subhannallah…

Ini mungkin adalah hal yang langka terjadi saat ini. Terlebih ditengah-tengah kondisi yang penuh dengan materi. Tetapi ini bukan hal yang mustahil terjadi pada anak-anak kita. Semua  tergantung dari bagaimana kita sebagai orang tua untuk mengenalkan Allah pada anak-anak sejak awal. Pengenalan Allah sejak dini secara bertahap akan membentuk pemahaman dan perasaan akan kesertaan Allah setiap saaat dalam proses perkembangan mereka.
Pemahaman akan makna maiyatullah (pengawasan Allah) inilah yang akan menjadi motivator utama bagi anak-anak kita untuk berkomitmen menjaga nilai-nilai moral. Bukankah kita memiliki keterbatasan penglihatan, yang tidak memungkinkan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak kita tatkala mereka di tempat yang lain?

Pemahaman maiyatullah ini tidak tumbuh secara instan.   Ibarat  seorang bayi yang sedang membutuhkan ASI, maka ibunya yang menyusui harus memiliki produksi ASI yang  banyak dan berkualitas agar bayinya kenyang dan otaknya berkembang maksimal. Artinya apa? Pemahaman maiyatullah ini tidak akan tumbuh manakala kita sebagai orang tua mengalami kekeringan ruhiyah. Sementara kewajiban kita adalah mengenyangkan ruhiyah/ keimanan anak-anak kita. So, kita harus memperhatikan asupan gizi untuk ruhiyah kita terlebih dahulu.

Cara lain yang dapat kita lakukan adalah memberikan ruang dan kesempatan kepada anak-anak kita untuk mengikuti aktivitas-aktivitas islami yang ada di sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal. Melibatkan anak-anak dalam aktivitas pengajian, mentoring, pembinaan intensif secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh bagi pola pikir mereka, sehingga anak-anak memilki orientasi hidup yang benar. Hal ini akan banyak membantu orang tua untuk mengontrol perilaku anak-anak.

MEMBERIKAN KEPERCAYAAN
Kekhawatiran orang tua terhadap dampak negatif dari tehnologi internet/ facebook terkadang membuat kita bersikap protective. Dampak sikap protective adalah kita cenderung melarang anak kita  untuk dekat-dekat dengan tren baru tersebut ataupun melarang anak kita bergaul dengan teman-temannya. Ini tentunya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru bagi kita maupun anak kita.  Anak kita mungkin menjadi gaptek, tersingkir dari pergaulan teman-temannya, bahkan terjadi konfrontasi dengan orang tuanya.

Sehingga yang terpenting disini adalah bagaimana orang tua bisa menjembatani kebutuhan anak-anak akan tehnologi dengan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mencobanya. Sikap orang tua memberikan kepercayaan kepada anak akan menjadi  kekuatan bagi setiap anak untuk menjaga harga dirinya dan keluarganya dengan selalu menjaga nilai-nilai moral. Dan sebaliknya, kecurigaan yang berlebihan akan mengakibatkan hubungan orang tua dan anak menjadi tidak baik, sehingga anak akan selalu berbohong dan mencuri-curi kesempatan. Memberikan kepercayaan juga bukan berarti kita memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak tanpa kontrol, melainkan didalamnya memuat adanya komunikasi yang intensif, ada perhatian, ada kontrol, nasehat dan bimbingan.

Insyaallah anak-anak kita pun akan dapat memberikan kepercayaannya kepada kita.

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)

Leave a Reply

smsPILKADA.com Aplikasi SMS Quick/Real Count