KETERBUKAAN KOMUNIKASI, KUNCI SUKSES ANAK HADAPI UASBN
Pertanyaan:
Putri saya sudah satu setengah bulan ini malas ke Sekolah, setiap pagi saya sulit membangunkannya. Dalam seminggu terkadang empat kali tidak masuk sekolah. Dia lebih banyak dikamarnya dan lebih banyak tidur, padahal dia dulu adalah anak yang sangat energik. Ketika saya menyuruh belajar (untuk UASBN), selalu dia marah dan melemparkan bukunya dan menangis. Dia takut tidak lulus ujian.
Hal ini membuat saya jengkel dan marah dengan periakunya. Saya khawatir sekali karena sebentar lagi dia ujian. Ada apa dengan anak saya, apakah itu yang dinamakan depresi dan mungkinkah remaja bisa depresi? Apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua untuk menyiapkannya menghadapi UASBN?
Ibu ND di Surabaya
Jawaban:
Ibu ND yang dimuliakan Allah, saya memahami apa yang ibu khawatirkan. Melihat gejala-gejala perilaku yang ditunjukkan putri ibu sepertinya ada kecenderungan putri ibu mengalami ketidaksiapan mental untuk menghadapi ujian. Kehilangan semangat, putus asa, mengurung diri, banyak tidur, menangis/sedih, tidak punya harapan merupakan beberapa indikasi awal terjadinya depresi.
Depresi memang tidak mengenal usia, bisa terjadi pada siapa saja mulai dari anak kecil sampai orang tua, tidak terkecuali remaja yang memang kelompok usia rawan dalam gangguan ini. Secara teori depresi merupakan gangguan mental yang spesifik yang ditandai dengan adanya perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, merasa bersalah, lambat dalam berpikir, dan menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas. Gangguan ini sangat serius karena akibat yang ditimbulkannya dapat membahayakan diri sendiri, selain gangguan pikiran, perasaan juga berpengaruh pada kesehatan dan yang paling parah adalah tindakan bunuh diri.
Berikut tanda-tanda depresi selengkapnya pada seseorang :
• Merasa sedih, cemas, dan tidak memiliki harapan
• Tidak nafsu makan, atau banyak makan yang menyebabkan penurunan maupun kenaikan berat badan dalam waktu singkat
• Terjaga di malam hari, namun tidur sepanjang siang
• Menarik diri dari teman-temannya, murung
• Aktivitas dan prestasi di sekolah menurun, menurunnya motivasi dan minat
• Mudah marah dan tersinggung, menjadi sensitif terhadap kritikan
• Rendah diri dan merasa sangat bersalah
• Konsentrasi menurun, sulit mengambil keputusan
• Adanya perubahan dalam kebiasaan makan maupun tidur
• Memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri
Adapun penyebabnya, pada setiap orang berbeda karena sangat dipengaruhi oleh cara berfikir (cara pandang) seseorang terhadap suatu permasalahan dan kematangan psikologisnya (self maturity) dalam menemukan solusi.
Pada beberapa orang permasalahan yang sepele bisa menjadi masalah yang sangat besar yang mengganggu pikiran, perasaan bahkan perilakunya. Banyak hal dalam kehidupan remaja yang sebenarnya biasa dalam pandangan orang tua menjadi luar biasa dalam pandangan mereka. Hal itulah yang terkadang menyebabkan remaja dan orang tuanya memiliki jarak dan hubungannya cenderung tegang dan renggang.
Pada kasus putri ibu, ujian merupakan masalah yang sangat besar bagi dirinya karena dia menyadari bahwa orang tuanya mempunyai harapan yang besar sehingga ada ketakutan dalam dirinya manakala terjadi kegagalan. Ketakutan-ketakutan yang irasional ini membuat putri ibu menjadi lemah jiwanya (mood) sehingga kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas khususnya yang terkait dengan belajar. Mogok sekolah atau mogok belajar adalah salah satu bentuk solusi yang ia pilih untuk mengatasi ketakutan-ketakutannya.
Dengan demikian ketika ibu memaksa putri ibu untuk belajar ataupun sekolah, dia akan menolaknya karena akan merasa tidak nyaman untuk melakukan aktivitas tersebut. Memang bagi kita orang tua solusinya bukanlah solusi yang tepat, karena justru solusinya tidak akan pernah memberi solusi. Oleh karena itu sebagai orang tua kita berkewajiban untuk membantu dan mendampingi putri kita untuk mengarah pada solusi yang lebih baik.
Berikut beberapa saran saya untuk membantu permasalahan ibu:
1. Mengendalikan ego kita sebagai orang tua dan mulailah membuka komunikasi dengan penuh rasa emphati
2. Menjadi pendengar yang baik ketika putri kita mengungkapkan perasaannya dan hindarilah untuk memberikan kritikan atau menghakimi
3. Jangan meremehkan apa yang ia rasakan, cobalah untuk memahami bahwa apa yang ia rasakan benar terjadi
4. Pada saat ia menceritakan masalahnya sebaiknya kita tidak memotong atau interupsi ceritanya atau mengaturnya, cukup kita dengarkan saja
5. Tidak memaksa atau melakukan pressure supaya ia menjadi seperti diri kita dahulu ketika menghadapi ujian
6. Yakinkan bahwa kita sebagai orang tua selalu ada untuk mendampingi dan membantu kesulitan-kesulitannya kapanpun ketika diperlukan
7. Menjadwalkan rekreasi bersama selama beberapa kali sebagai upaya refreshing menenangkan pikiran dan perasaan dari ketidaknyamanan agar lebih rileks
8. Memotivasinya dengan menceritakan keberhasilnya orang-orang berilmu yang sukses dengan tujuan untuk membangkitkan semangat belajarnya
9. Ketika motivasi belajarnya mulai muncul, kuatkanlah ia dengan selalu memberikan sanjungan yang menyenangkan
10. Hindarkan untuk menetapkan target nilai tinggi kepadanya sesuai dengan harapan kita karena justru akan membuatnya tidak percaya diri dan berputus asa
11. Yakinkan ia bahwa ia pasti bisa menghadapi ujian tersebut dengan usaha dan doa
12. Yakinkan ia hasil apapun yang ia dapatkan adalah yang terbaik baginya dan orang tuanya
13. Yakinkan pula bahwa kita sebagai orang tua menghargai usahanya yang dilakukan dengan jujur, bukan orientasi hasil akhirnya
14. Mengajaknya untuk selalu taat beribadah kepada Allah dengan memperbanyak sholat tahajjud karena Allahlah penentu segalanya
Menjadi orang tua bagi remaja bukanlah hal yang mudah karena terdapat banyak tantangan. Ibu, apabila usaha yang ibu lakukan tidak menunjukkan perubahan pada putri ibu, ibu bisa meminta bantuan tenaga ahli baik psikolog ataupun psikiater untuk mendapatkan penyelesaian (terapi) yang tepat. Semoga Allah memudahkan semua urusan dan menunjukkan jalan yag benar kepada kita semua.
Wallahua’lam bishowab












