| Berbagi Ilmu dan Pengalaman
7 February 2012

VALENTINE DAY, KEDOK SEX BEBAS

Bulan Febuari merupakan bulan yang identik dengan warna pink. Awal bulan ini biasanya orang sudah ramai membicarakan dan merencanakan acara spesial untuk tanggal 14 Febuari. Bahkan dunia bisnis, baik pusat-pusat perbelanjaan maupun industri film biasanya telah memulai start lebih dahulu untuk membawa pengunjungnya dalam suasana romantis dengan desain serba pink dan simbol-simbol love.

Momen ini biasanya menjadi momen “bersejarah” bagi pasangan-pasangan kekasih (pacaran) untuk mengabadikan cinta mereka, mengekspresikan perasaan mereka dan menghalalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma agama maupun norma sosial.

Tidak terkecuali kalangan remaja, justru kelompok umur ini di negeri kita menunjukkan perkembangan yang sangat memprihatinkan dari tahun ke tahun. Dari sejumlah survey dan penelitian yang dilakukan pada 33 provinsi tahun 2008, 63% remaja Indonesia (usia sekolah SMP-SMA) telah melakukan sex bebas (data BKKBN). Penelitian seks pranikah remaja di kota-kota besar juga menujukkan angka yang tidak kecil yaitu 47-54%. Jumlah remaja yang mengidap AIDS sampai bulan september 2008 mencapai angka 54% dari 15.210 penderita AIDS. Nudzubillahmindalik, sungguh mengerikan…

Perilaku pacaran remaja di negeri kita yang mayoritas islam ini tidak ada bedanya dengan remaja-remaja di negara-negara maju. Kalau kita ingat tahun 2005 di Cianjur 11 siswa SMK dikeluarkan dari sekolah karena melakukan oral sex dikelas. Salah satu siswi sekolah tersebut juga ada yang pekerjaannya melacurkan diri sepulang sekolah. Permasalahan seperti ini hampir merata di setiap kota, tidak pandang kota besar atau kota kecil bahkan pedesaan. Ditahun 2009 saja berapa kali kita menyaksikan berita beredarnya VCD porno (seks pranikah) yang pelakunya adalah pelajar. Kota santri seperti jombang, madura, sukabumipun tidak luput dari kebebasan pergaulan. Dalam pandangan remaja kita, pacaran tanpa seks bebas adalah kuno, tidak gaul alias jadul. Hamil diluar nikah dipandang sebagai hal yang biasa, tidak tabu, bahkan mereka tidak khawatir karena ada klinik aborsi yang siap menangani masalah mereka. Astaqfirullahaladzim…..

Pembaca yang budiman, fenomena diatas sangatlah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan kita sebagai orang tua yang memiliki putra putri yang memasuki usia pubertas. Kecintaan kita kepada putra putri kita terkadang menjadikan kita buta mata, sehingga memberikan kebebasan kepadanya tanpa kontrol dengan dalih kita tidak ingin overprotective. Atau sebaliknya kita menjadi orang tua yang cuek karena anak kita sudah mulai tumbuh dewasa, dengan demikian bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak perlu perhatian yang lebih intens daripada ketika bayi.

Pembaca yang budiman, sebagai orang tua tentunya kita akan terpukul, menangis seandainya remaja kita adalah termasuk didalam remaja seperti kasus diatas. Masihkah dengan pelajaran diatas, kita tetap berdiam diri, tidak melakukan planning apapun untuk putra putri kita? Tentunya kita tidak ingin terlambat melakukan start untuk meningkatkan kualitas pendidikan kepada putra putri yang kita cintai.

MENDIDIK KONSEP HIDUP
Apabila kita mengamati perilaku pacaran remaja yang semakin bebas, bisa disimpulkan bahwa pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap agama sangat minim. Kedangkalan nilai-nilai agama menyebabkan remaja-remaja kita tidak memiliki jati diri (self concept) yang hakiki sehingga melahirkan perilaku-perilaku tidak bertanggung jawab, tidak peka terhadap orang lain maupun lingkungan.

Ketika putra-putri kita memasuki remaja memang banyak dinamika yang terjadi, disamping perubahan fisiknya, kejiwaan maupun pola pikirnyapun berubah dan hal tersebut adalah sunatullah. Dalam masa perubahan tersebut putra-putri kita memiliki kebutuhan untuk menemukan jati dirinya dan menunjukkan eksistensi dirinya agar ia bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Konsep dirinya akan menjadi positif manakala ia mendapatkan input-input yang positif dan sebaliknya apabila input-input negatif yang ia terima lebih banyak, maka konsep dirinya akan cenderung negatif dan melahirkan perilaku-perilaku maladaptif.

Keluarga yang baik, yang penuh keterbukaan, cinta kasih, saling pengertian dan saling memahami sesama anggota keluarga merupakan input positif yang akan membuahkan output anak-anak yang mempunyai konsep diri positif.
Keluarga yang baik adalah keluarga dimana orang tua adalah pemimpin, teladan dan pelayan bagi putra-putrinya. Penanaman aqidah dan akhlaq merupakan menu yang utama dalam mendidik putra-putrinya. Sejak kecil anak hendaknya kita arahkan untuk mengenal konsep hidup, sehingga mereka tahu makna hidup; untuk apa mereka hidup, mengapa mereka diciptakan, bagaimana seharusnya mereka hidup dan dengan apa mereka hidup.

Pemahaman terhadap makna hidup, akan menjadikan putra-putri kita memiliki perasaan adanya pengawasan Allah dimanapun mereka berada sehingga ini akan menjadi parameter bagi mereka untuk menjauhi perbuatan-perbuatan haram dan membuat mereka sebagai orang yang taat beribadah. Dengan demikian mereka akan memiliki komitmen moral untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik.

ORANG TUA, SUMBER INFORMASI ANAK
Cinta adalah fitroh setiap manusia yang diberikan oleh Allah. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai. Begitu pula dengan putra-putri kita khususnya yang sedang dalam masa puber. Sebagai orang tua hendaknya kita memberikan informasi yang tepat (dalam rangka pendidikan seks), karena hal tersebut akan membantu putra putri kita mengenal seks yang benar dan bahaya seks bebas (rata-rata remaja kita mendapatkan informasi seks dari teman-temannya (16%) dan film porno (35%) dan sedikit yang dari orang tuanya (5%). Inyaallah dengan informasi yang tepat, mereka akan lebih mampu menjaga dirinya dari pengaruh pergaulan bebas.

Pembaca yang budiman, membangun kedekatan hubungan dengan putra-putri kita merupakan kunci untuk mengokohkah kepercayaan mereka kepada kita (orang tua). Sehingga mereka tidak malu dan takut untuk bertanya, berkeluh kesah, curhat kepada orang tuanya mengenai hal-hal yang mereka alami. Jangan kita biarkan putra-putri kita lebih dekat, lebih percaya kepada orang lain (lawan jenis) yang tidak jelas agamanya karena hanya akan menyisakan penyesalan.

Pembaca yang budiman, setelah apa yang kita bahas diatas masihkah kita memberikan lampu hijau kepada putra putri kita untuk menjalin hubungan kasih dengan lawan jenisnya? Masihkah kita menutup diri terhadap mereka? Masihkah kita rela putra-putri kita pergi meninggalkan rumah untuk merayakan sebuah hari kasih sayang (valentine day)? Jawabannya ada pada hati nurani anda.
Wallahua’lam bishowwab

VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.9.1_1087]
Rating: 0 (from 0 votes)
VALENTINE DAY, KEDOK SEX BEBAS, 7.0 out of 10 based on 2 ratings

Reader Feedback

One Response to “VALENTINE DAY, KEDOK SEX BEBAS”

  1. Hafizh Hardika K. says:

    Assalamualaikum… iya Pak, setuju.
    tapi yang lebih parah lagi, kalau dilihat dari sisi kemanusiaan dan Kasih Sayang adalah banyak Orang yang tidak punya rasa kasih sayang terhadap sesama Manusia, Orang yang bersikap tidak adil terhadap Manusia, dan Orang yang suka merendahkan Manusia lain

    VA:F [1.9.1_1087]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.1_1087]
    Rating: +1 (from 1 vote)

Leave a Reply

smsPILKADA.com Aplikasi SMS Quick/Real Count