<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anandyah Arifin</title>
	<atom:link href="http://www.anandyah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.anandyah.com</link>
	<description>Berbagi Ilmu dan Pengalaman</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Dec 2011 00:45:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>40 HARI BERSAMA IBU</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 00:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah kusadari, 22 Desember satu tahun yang silam adalah hari ibu yang  terakhir bersama ibu yang sangat aku cintai.Kuingat betapa sedihnya hatiku ketika aku membisikkan Selamat Hari Ibu ditelinganya, matanya yang indah  itu tak juga membuka untukku.Saat itu sekuntum mawar tidaklah berharga untuknya, karena keindahannya tidak lagi terlihat oleh matanya dan harumnya tidak lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/12/ibu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-205" title="ibu" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/12/ibu-271x300.jpg" alt="" width="271" height="300" /></a>Tidak pernah kusadari, 22 Desember satu tahun yang silam adalah hari ibu yang  terakhir bersama ibu yang sangat aku cintai.Kuingat betapa sedihnya hatiku ketika aku membisikkan Selamat Hari Ibu ditelinganya, matanya yang indah  itu tak juga membuka untukku.Saat itu sekuntum mawar tidaklah berharga untuknya, karena keindahannya tidak lagi terlihat oleh matanya dan harumnya tidak lagi tercium olehnya.Hanya lantunan ayat suci Al Qur’an yang kuhadiahkan untuknya, karena aku yakin pendengarannya masih bisa menangkap suaraku.</p>
<p>Mengingatnya, selalu membuat mataku bersimbah air mata.40 hari aku sangat akrab menyusuri lorong-lorong menuju ruang ICU, untuk menemani tidurnya yang panjang, membacakan Al Ma’tsurot, mengelus tubuhnya, kaki tangannya, membelai kepalanya,  dengan harapan ia membuka matanya.Betapa bahagianya hatiku ketika ia memberikan respon, menggerakkan sedikit kakinya, sedikit tangannya, mengeluarkan sedikit suaranya dan membuka sedikit matanya.Saat itu tidak pernah aku menyadari bahwa usianya didunia saat itu tinggal 10 hari lagi.</p>
<p>Kenangan tentang ibu, begitu melekat dikepalakuAku tahu betapa beratnya engkau melawan virus yang menyerangmuWajah tuamu yang terbaring diatas bantal rumah sakit menunjukkan kesakitan luar biasa yang engkau rasakanIbu, aku bisa merasakan yang engkau rasakan karena aku terlahir dari rahimmu.</p>
<p>Kenangan tentang ibu, begitu menyedihkanku tatkala diperpisahan terakhir itu tak sedikitpun keluar kata-kata, ucapan, pesan dari mulutnya kepadaku, tidak sedikitpun matanya membuka untukkuNamun, linangan air mata yang keluar dari sudut matanya adalah isyarat yang membahagianku dan salam perpisahan yang ingin disampaikannya.</p>
<p>Kenangan tentang ibu, adalah kenangan yang membahagiakan tatkala aku membuka kain jarik yang membungkusnya dari rumah sakit, kudapati seraut wajah yang tersenyum bahagia dan terlihat putih cantik memancarkan cahayaTidak sedikitpun kulihat kesedihan dan kesakitan di wajahnya seperti ketika diruang ICUIbu, aku bahagia melihat dirimu seperti bidadari didalam kain putih yang membalut tubuhmu Ibu, aku yakin engkau adalah bidadari surga yang dirindukan dan disambut dengan suka cita oleh makhluq surga.</p>
<p>Ibu, dihari ibu ini perkenankan aku mempersembahkan hadiah terindah ini<br />
<em> </em></p>
<p><em>Allahummafirlaha wa afiha wa’fuanha</em></p>
<p><em>Robbifirli waliwalidaya warhamhuma robbayani shogiro</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARA CERDAS MENYIKAPI ANAK PUBER</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 23:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan zaman saat ini menjadi tantangan bersama orang tua masa kini.  Kekhawatiran  sebagian besar orang tua terhadap masa depan anak-anak adalah sebuah gejala yang dapat menimbulkan kecemasan yang bersifat latent. Betapa tidak, anak-anak yang di rumah terlihat baik, pendiam, penurut ternyata di luar rumah mereka merokok dengan teman-temannya, terlibat aksi kekerasan, pacaran, drug abuse dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/02/PubertySearle.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-198" title="PubertySearle" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/02/PubertySearle-300x249.jpg" alt="" width="300" height="249" /></a></strong>Perubahan zaman saat ini menjadi tantangan bersama orang tua masa kini.  Kekhawatiran  sebagian besar orang tua terhadap masa depan anak-anak adalah sebuah gejala yang dapat menimbulkan kecemasan yang bersifat latent. Betapa tidak, anak-anak yang di rumah terlihat baik, pendiam, penurut ternyata di luar rumah mereka merokok dengan teman-temannya, terlibat aksi kekerasan, pacaran, <em>drug abuse</em> dan sebagainya.</p>
<p>Tantangan ini semakin berat dirasakan orang tua khususnya menghadapi anak-anak yang memasuki usia pubertas.  Perubahan-perubahan yang salah satunya ditandai dengan berubahnya emosi menuntut kerja keras orang tua dalam menerapkan pola asuh dan pola didik.</p>
<p>Beberapa keluhan sering disampaikan orang tua adalah seputar masalah ketertarikan terhadap lawan jenis dan perilaku melawan otoritas orang tua.  Masalah ini menimbulkan kebingungan-kebingungan orang tua dalam hal penyikapan. Suatu saat ada seorang ibu tanpa sengaja membaca sms di HP putranya yang masih SMP,  alangkah terkejutnya ibu itu mengetahui isi HP tersebut berisi kata-kata mesra, penuh rayuan dan berbau sex  yang tidak layak dari sang pengirim (anak perempuan).</p>
<p>Pada kesempatan yang berbeda, ibu yang lain juga tanpa sengaja membaca sms di HP putrinya, sang pengirim (teman putranya) mengajak kencan di sebuah taman dan meminta putrinya menanggalkan jilbabnya.  Kedua ibu tersebut sangat panik, mengingat selama ini putra dan putrinya adalah anak-anak yang sejak kecil terbiasa dengan aturan-aturan islami. Ketakutan akan pergaulan bebas, membuat para ibu bertindak protective dengan memperketat semua hal yang memungkinkan terjadinya interaksi lawan jenis tersebut, seperti; pelarangan pemakaian HP, memutus akses internet, pengawalan ketat kemanapun anak beraktivitas dll.</p>
<p>Perlu disadari oleh para orang tua bahwa penyikapan-penyikapan yang tidak tepat dapat berpotensi menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan justru menyebabkan anak-anak kelak mengalami kesulitan untuk keluar dari krisis pubertasnya. Efek dari krisis ini adalah terhambatnya proses pencarian identitas diri.</p>
<p><strong>MEMAHAMI PUBERTAS</strong></p>
<p>Pubertas merupakan masa transisi dan tahapan kritis yang dialami oleh anak-anak yang mengalami akil baligh.  Masa ini ditandai dengan adanya perubahan fisik, yang melahirkan konsekuensi perubahan hormonal dan mempengaruhi kondisi psikologis dan emosi anak.  Dengan demikian secara fisik dapat kita lihat mereka seperti orang dewasa namun secara psikologis belum, karena kemampuan intelektual dan emosi sosialnya masih berproses menuju maturitas (kematangan).</p>
<p>Ketidakmatangan emosinya berakibat sering berubah &#8211; ubahnya mood, terkadang terkesan memberontak, tidak taat pada aturan, ingin mencoba sesuatu yang menantang, ingin menunjukkan eksistensi dirinya dan lainnya. Dengan begitu, seringkali masa ini diliputi konflik terutama dengan orang tua.</p>
<p>Terdapat dua issue utama pada remaja yang terkait dengan masa ini yaitu masalah individu dan seksualitas. Umumnya para remaja mulai “menarik diri” dari banyak nilai-nilai (<em>values</em>) yang selama ini didapatkannya. Pada tahun-tahun “rawan” ini para remaja cenderung mengambil nilai-nilai dari peer groupnya ( kelompok ) dan budaya pop yang melingkar disekitar hidupnya. Ia mulai enggan untuk bergabung dengan acara-acara keluarga dan malah lebih sering bergabung dengan teman-temannya.</p>
<p>Dalam hal seksualitas, mereka sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Berkaitan dengan ini seringkali mereka tertarik dengan informasi-informasi baik berupa film, music, artikel, cerpen, novel, yang bertema percintaan. Pada masa ini, biasanya mereka mengalami perubahan dalam hal penampilan, baik dalam berpakaian maupun dandanan.  Dengan keadaan semacam ini, banyak orang tua tidak siap dan menganggap anaknya bermasalah.</p>
<p>Pemahaman mengenai pubertas ini  merupakan kurikulum yang wajib diketahui orang tua.  Bahwasannya usia pubertas dengan segala fenomenanya merupakan hal yang fitroh, yang tidak mungkin dikebiri melainkan perlu diarahkan. Dengan bekalan-bekalan ini, permasalahan- permasalahan seputar remaja dapat disikapi dengan pendekatan yang lebih  kooperatif dan humanis.</p>
<p><strong>MENGUBAH POLA ASUH</strong></p>
<p>Masa remaja berbeda dengan masa kanak-kanak ditinjau dari berbagai segi.  Dan efek yang timbul dari perbedaan ini adalah berubahnya pola asuh dan pola didik yang seharusnya diterapkan, (walaupun kebanyakan kita menganggapnya sama). Cara komunikasi, penetapan aturan, penyelesaian masalah, penguatan motivasi pada masa pubertas memiliki kekhasan tersendiri dan orang tua harus memiliki kecakapan untuk melakukan hal tersebut.</p>
<p>Berikut tips menghadapi masa pubertas:</p>
<ol>
<li>Menerima bahwa pubertas merupakan proses alami.  Tidak usah panik, misalnya ketika anak perempuan kita yang kelas 4 SD mendapatkan haid pertama.  Atau anak laki-laki kita mimpi basah.  Penerimaan yang baik dari orang tua mengantarkan anak-anak pada kedewasaaan dengan sempurna.</li>
<li>Memberikan peran dan kepercayaan dalam keluarga. Ini yang memandu mereka pada pemahaman akan tanggung jawab sekaligus memberikan kepercayaan diri bahwa mereka dicintai.</li>
<li>Jangan terkejut ketika menemui anak kita bereksperimen dengan banyak hal baru, yang kadang aneh-aneh. Misalnya, berlama-lama berdandan, kamarnya ganti suasana seperti toko poster, mencoba aneka peran, dan lain-lain.</li>
<li>Menghargai pendapat mereka, antara lain dengan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Pada masa ini, logika mereka semakin matang.</li>
<li>Menjadi teman dekatnya, karena dengan demikian anak akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan problematikanya. Prinsipnya, lebih baik anak curhat ke orang tuanya, dari pada kepada teman, koran, internet dan yang lainnya.</li>
<li>Mengenali lingkungan barunya. Salah satunya adalah mengetahui siapa teman-teman dekat anak kita. Tapi, perlu kehati-hatian, jangan sampai mereka merasa diawasi seperti polisi memelototi penjahat.</li>
<li>Mengubah gaya kita, dari seorang penasehat yang cerewet menjadi pembimbing yang diidolakan. Tidak ada yang lebih dihargai oleh anak di usia puber selain sosok orang tua yang bijak tetapi tegas.</li>
<li>Memperbanyak berdoa.  Karena banyak kemungkinan terjadi di sisi kehidupan anak, yang sering tidak bisa kita prediksi.  Jalan terbaik adalah mengharap bimbingan dari Allah yang menciptakan anak kita.</li>
</ol>
<p><em>Wallahua’lam Bishawab</em></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BIJAK DENGAN PSIKOTEST</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 01:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika di sebuah sekolah TK tempat anak saya bersekolah, diadakan psikotest (tes psikologi) untuk mengukur kecerdasan intelijen.  Banyak ibu-ibu yang tertarik untuk mengikutkan anaknya dengan dalih ingin mengetahui sejauh mana kecerdasan anaknya.  Walhasil, ibu-ibu tersebut “memaksa” anaknya untuk mengikuti tes yang dilakukan secara classical. Beberapa hari kemudian, hasil tes dibagikan ke seluruh wali murid.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/01/Its-Easy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-193" title="Its Easy" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/01/Its-Easy-300x249.jpg" alt="" width="300" height="249" /></a>Suatu ketika di sebuah sekolah TK tempat anak saya bersekolah, diadakan psikotest (tes psikologi) untuk mengukur kecerdasan intelijen.  Banyak ibu-ibu yang tertarik untuk mengikutkan anaknya dengan dalih ingin mengetahui sejauh mana kecerdasan anaknya.  Walhasil, ibu-ibu tersebut “memaksa” anaknya untuk mengikuti tes yang dilakukan secara classical.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, hasil tes dibagikan ke seluruh wali murid.  Nampak beberapa ibu kecewa dengan hasil yang diperoleh anaknya setelah membandingkan dengan yang lain. Muncul berbagai penilaian, anaknya tidak pandai, bodoh, tesnya tidak valid dll.   Ada juga yang bangga bahkan terkesan sombong dengan angka IQ anaknya yang dibilang diatas rata-rata (superior).</p>
<p>Berawal dari sinilah pada beberapa kasus akhirnya timbul konflik antara ibu dan anak, karena kurangnya pemahaman terhadap hasil tes tersebut.  Sehingga, follow up yang sering terjadi adalah memberikan beban belajar yang berat kepada anak yang masih dalam masa bermain ini. Pelajaran tambahan (les) seringkali menjadi menu wajib sehari-hari untuk anak-anak tersebut.</p>
<p>Realita seperti ini umum terjadi dikalangan masyarakat kita, khususnya orang-orang yang awam terhadap segala jenis psikotest.  Hasil psikotest masih dianggap sebagai harga mati dalam menentukan beberapa aspek penilaian seseorang.  Bahkan dianggap sebagai momok, yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan keberuntungan seseorang.  Sehingga, berburu soal-soal psikotest menjadi pemandangan yang biasa terjadi setiap kali seseorang mencari pekerjaan. Padahal, bukan demikian seharusnya kita menyikapinya, karena justru hal tersebut akan mengungkung pikiran dan persepsi kita terhadap masa depan.</p>
<p>MENGENAL PSIKOTEST</p>
<p>Psikotest dikenal juga sebagai tes psikologi merupakan tes untuk mengukur aspek individu secara psikis.  Tes psikologi dapat berbentuk tertulis, visual atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional.</p>
<p>Adapun tujuan dilakukannya tes psikologi adalah untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis.  Dengan kata lain tes psikologi ini berfungsi untuk mengungkap potensi-potensi yang ada dalam diri kita.  Dari hasil tes akan dapat diketahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki seseorang dan informasi seperti ini akan sangat membantu dalam mengembangkan potensi-potensi positif dan mengarahkan potensi-potensi yang kurang baik.</p>
<p>Nah, yang sering terjadi di masyarakat kita adalah melihat hasil akhir (angka) dari tes tersebut dan seringkali menghasilkan kesimpulan yang kadang tidak menguntungkan.  Satu contoh kasus; hasil test menunjukkan skor IQ seorang anak 90, yang berarti average (rata-rata). Sementara anak yang lain  memiliki skor IQ 120 yang berarti superior (diatas rata-rata). Apa yang disimpulkan oleh ibu-ibu mereka? Mereka menganggap anak yang memiliki skor IQ 120 lebih hebat, pandai  dari anak yang skor IQ nya 90.</p>
<p>Pemahaman demikian adalah salah.  Dalam tes IQ terdapat beberapa aspek penilaian yang diukur yaitu seperti pemahaman, kemampuan verbal, memori,  penalaran, perseptual, kemampuan  spasial dan pemahaman angka. Dan masing-masing memiliki skor.  Melihat hasil tes psikologi akan sangat baik apabila kita memperhatikan keseluruhan skor dari aspek-aspek penilaian tersebut sehingga interpretasi kita terhadap anak-anak kita lebih tepat.</p>
<p>Kita akan mengetahui kelebihan anak kita, misal pada kemampuan verbalnya, penalarannya sangat menonjol maupun kekurangannya.  Jadi skor yang kita terima sebagai angka kecerdasan bukanlah harga mati.  Dengan demikian treatment yang kita berikan kepada anak tidak akan menyimpang.  Anak tidak merasa terbebani tetapi justru kemampuannya akan lebih dapat ditampung dan diarahkan.</p>
<p>Hal ini berlaku pula dalam kita memahami hasil tes psikologi yang mengungkap dan mengukur aspek yang lain (kepribadian, prestasi, bakat, kemampuan).  Jangan kita terlalu fokus dan reaktif dengan suatu hasil yang terlihat negative, melainkan proaktif untuk mengembangkan sisi positif yang tersimpan dalam diri kita.  Pemahaman dan penyikapan yang benar terhadap hasil psikotest justru sangat membantu kita dalam mengenali diri kita secara menyeluruh.</p>
<p>TIDAK ADA YANG ABADI</p>
<p>Hidup dan kehidupan merupakan dua hal yang identik dengan perubahan. Dan waktu adalah penentu terjadinya perubahan tersebut. Manusia adalah makhluk yang mengalami perubahan baik secara fisik, akal maupun mental.  Pengaruh genitas, nutrisi, lingkungan berperan sangat besar dalam mengubah seseorang.</p>
<p>Kisah nyata  seorang anak bernama Jennifer lahir pada September 1984 dalam keadaan yang tidak lazim, tanpa ekspresi dan respon-responnya lambat.  Dokter memvonis Jennifer menderita down syndrome (keterbelakangan mental). Bahkan dalam usianya 2 bulan ia hampir mengalami kebutaan, tuli dan keterbelakangan mental yang parah.  Apa yang dilakukan ibunya? Ibunya melakukan terapi kepada anaknya agar otaknya memperoleh rangsangan dengan membacakan sebelas buku setiap hari kepada bayinya tersebut.  Muncullah sebuah keajaiban, pada usia 4 tahun dilakukan pengukuran IQ.  Subhanallah hasilnya menakjubkan, IQ nya 111.</p>
<p>Apa yang bisa kita simpulkan? IQ bukanlah angka yang tetap, ia akan berubah sebanding dengan berkembangnya fungsi otak manusia.  IQ berbeda dengan intelegensia, IQ adalah <strong>skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan</strong>. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.</p>
<p>Sementara Intelegensia adalah <strong>kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif</strong>. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.</p>
<p>Berbicara inteligensia tidak terlepas dari aktifitas otak, semakin maksimal fungsi-fungsi otak kita, kecerdasan juga semakin meningkat.  Oleh sebab itu memperhatikan asupan otak sangat berarti utk meningkatkan kemampuan otak, baik melalui nutrisi maupun rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif maupun emosional.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARI IBU, MOMENTUM MENJADI IBU YANG BERMARTABAT</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2010 07:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Siang hari di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, seperti biasa beberapa orang tua murid berkumpul di tempat penjemputan. Seperti biasa, ada yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya, ada yang bercanda ria, ada yang sedang membicarakan orang lain (gosip), berdiam diri sampai ada yang sedang curhat.  Kebetulan saat itu saya sedang berada pada kelompok ibu-ibu yang lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/12/ummi-fatih-ihsan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-186" title="ummi-fatih-ihsan" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/12/ummi-fatih-ihsan-218x300.jpg" alt="" width="218" height="300" /></a></p>
<p>Siang hari di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, seperti biasa beberapa orang tua murid berkumpul di tempat penjemputan. Seperti biasa, ada yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya, ada yang bercanda ria, ada yang sedang membicarakan orang lain (gosip), berdiam diri sampai ada yang sedang curhat.  Kebetulan saat itu saya sedang berada pada kelompok ibu-ibu yang lagi curhat.  Dan topik besar saat itu adalah masalah stress yang melanda kaum ibu.</p>
<p>Betapa hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam rumah tangga ternyata harus menjadi konsumsi publik.  Seperti masalah yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga yang overload, kesenjangan antara suami istri, kurangnya kepercayaan diri, pendapatan suami yang pas-pasan, keharmonisan pasangan, dan anak-anak yang bermasalah. Permasalahan-permasalahan yang tidak pernah tuntas dalam rumah tangga ini menyebabkan perasaan-perasaan tertekan, penyesalan, unhappy yang dialami seorang ibu dan pada akhirnya menimbulkan masalah baru.</p>
<p>Akumulasi permasalahan diatas sesungguhnya  dapat mengancam kesehatan psikis seorang ibu.  Efek  berikutnya yang ditimbulkan dari hal tersebut tentunya akan mengganggu keberlangsungan fungsi keluarga.  Padahal seperti kita ketahui, fungsi seorang ibu dalam keluarga sangat vital.</p>
<p><strong>MEMBANGUN AWARENESS</strong></p>
<p>Seorang wanita adalah makhluk yang spesifik karena keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya. Suatu waktu bisa berperan sebagai seorang istri, seorang ibu,  bagian dari masyarakat sampai seorang hamba yang mengabdi kepada sang Khalik. Dengan perannya yang multiple fungsi tersebut seorang wanita dituntut memiliki kesiapan yang ekstra, sehingga hak-hak setiap individu dalam keluarga dapat terpenuhi dengan baik.  Memang sekilas tidak ada yang ringan alias melelahkan namun dengan kesadaran dan optimalisasi peran-perannya tersebut seorang wanita sesungguhnya akan mendapatkan sebuah kemuliaan.</p>
<p>Kesadaran dan pemahaman  akan peran sebagai seorang ibu wajib kita miliki. Karena akan melahirkan energi besar yang akan mendorong kita untuk melakukan fungsi pengasuhan dan pendidikan terhadap anak sesuai dengan fitroh anak.  Sehingga anak-anak nakal, rewel, mogok sekolah tidak disikapi secara apatis (stress) tetapi justru menjadi pendorong seorang ibu untuk mengevaluasi dan menata ulang pola asuh dan pola didiknya menjadi lebih baik.  Sebaliknya ketidakmampuan seorang ibu dalam menjalankan fungsinya akan melahirkan anak-anak yang bermasalah secara sosial.</p>
<p>Optimalisasi fungsi peran ibu secara integral dapat menumbuhkan potensi-potensi anak berkembang sesuai dengan kapasitasnya.  Anak-anak pun sehat jiwanya, mereka memiliki semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik dan menghasilkan prestasi-prestasi yang mengagumkan. Oleh sebab itu penting bagi seorang ibu untuk membangun kembali sebuah pola pikir positif akan tugas mulianya ini agar memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menggembleng anak-anak menjadi generasi-generasi yang berkualitas, potensial dan bermanfaat untuk ummat.</p>
<p>Begitu halnya dengan kesadaran dan pemahaman kita sebagai seorang istri perlu selalu ditingkatkan sehingga kehidupan rumah tangga kita jauh dari percekcokan, pertengkaran, perselisihan, kecurigaan dan fitnah perceraian.  Bermula dari diri sendiri, kita menata kembali peran kita sebagai istri untuk menjaga keharmonisan berumahtangga.  Memang tidak dapat dipungkiri, dengan beratnya  berbagai aktivitas yang dilakukan seorang ibu (mengurus anak, melakukan pekerjaan rumah tangga, bekerja diluar dll),cukup menguras tenaga, waktu maupun pikiran sehingga tak jarang  fungsi sebagai istri terabaikan.  Akan tetapi dengan awareness, kita punya kekuatan untuk melahirkan semangat baru.</p>
<p>Dalam sebuah hadist disebutkan seorang istri yang melayani suaminya dikatakan pahalanya seperti berjihad melawan 70 orang kafir dan ketika ia meninggal pada saat melayani suaminya maka dia syahid dan langsung masuk surga tanpa hisab.  Subhanallah….</p>
<p>Kesadaran akan peran kita dalam berbagai dimensi mengharuskan kita memiliki kecakapan dalam mengatur beragam aktivitas sehingga tidak terjadi benturan satu dengan lainnya.  Sehingga setiap individu didalam keluarga merasa puas, bahagia tidak ada yang merasa dirugikan karena terpenuhi hak-haknya.</p>
<p><strong>MENJADI IBU CERDAS</strong></p>
<p>Pekerjaan menjadi ibu tidak lebih mudah daripada seorang manajer, accounting, dokter dll.  Bahkan seorang arsitek wanita pun mengatakan membangun fondasi anak sholih lebih rumit daripada membangun fondasi beton gedung bertingkat.  Artinya apa, menjadi seorang ibu juga tidak luput dari aktifitas belajar.  Keberhasilan seorang ibu mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang sukses sesungguhnya karena jerih payah dan usahanya untuk belajar memahami dinamika anak-anaknya serta mengarahkan potensi-potensi kemanusiaannya menjadi sumber daya-sumber daya yang berdayaguna.</p>
<p>So, memperbanyak tsaqofah (pengetahuan) hukumnya wajib tidak hanya bagi yang bersekolah tetapi bagi seorang ibu adalah sebuah kebutuhan utama.  Dengan pengetahuan, seorang ibu lebih memiliki wawasan yang luas, sehingga cara berpikirnya lebih terbuka, tidak saklek dan otoriter.  Dan yang terpenting mau mengevaluasi dan melakukan perubahan terhadap kekurangan-kekurangannya dan meningkatkan kemampuannya dalam mengarahkan dan mendidik anak-anak.</p>
<p>Dengan aktifitas belajar (membaca, browsing internet, kursus ketrampilan, berorganisasi), seorang ibu juga akan memiliki kemampuan untuk mengatasi kejenuhan-kejenuhan dalam pekerjaan rumah tangga maupun kesenjangan pengetahuan/pola pikir dengan suami.  Sehingga perasaan-perasaan tertekan, tidak percaya diri, stress tidak menghantui dan menonjol, berubah menjadi perasaan bahagia.  Dengan demikian masalah-masalah klasik yang mengganjal dapat diminimalisir dan diselesaikan dalam rumah tangga masing-masing.</p>
<p>Dan satu hal yang sangat mendasar untuk menjadi ibu yang cerdas adalah baiknya hubungan antara ibu sebagai hamba dan Allah sebagai Raja yang memiliki kekuasaan semesta alam (quwwatusilahbillah).  Kekuatan hubungan dengan Allah inilah yang melahirkan energi yang sesungguhnya pada seorang ibu untuk bekerja dengan penuh keikhlasan.  Tanpa keikhlasan dan keistiqomahan mustahil peran seorang wanita sebagai ibu, istri, bagian dari masyarakat dapat dijalankan dengan baik dan berkembang secara optimal.  Sadarilah, dibalik anak-anak hebat terdapat ibu-ibu yang  cerdas,  dan dibelakang para suami yang sukses terdapat istri yang bermartabat.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LIFE SKILL , MODAL SUKSES MASA DEPAN</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 22:28:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika dalam sebuah arisan di perumahan tempat tinggal saya, seperti biasa sebelum acaranya dibuka ibu-ibu asyik mengobrol. Ada yang membicarakan masalah fashion, harga kebutuhan pokok, kuliner sampai masalah pembantu, suami dan anak-anak. Kebetulan saat itu saya sedang “ngomongin” perihal anak dengan seorang ibu yang cukup senior di perumahan. Beliau mengeluhkan putranya (sudah duduk dibangku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/06/LIFE-SKILL.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-181" title="LIFE SKILL" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/06/LIFE-SKILL.jpg" alt="" width="112" height="150" /></a>Suatu ketika dalam sebuah arisan di perumahan tempat tinggal saya, seperti biasa sebelum acaranya dibuka ibu-ibu asyik mengobrol. Ada yang membicarakan masalah fashion, harga kebutuhan pokok, kuliner sampai masalah pembantu, suami dan anak-anak.</p>
<p>Kebetulan saat itu saya sedang “ngomongin” perihal anak dengan seorang ibu yang cukup senior di perumahan. Beliau mengeluhkan putranya (sudah duduk dibangku kuliah) tetapi masih harus di “dikte” terus setiap hari dalam urusan-urusan kemandirian dan tanggung jawab. Kamar berantakan, pakaian, buku, kertas-kertas, handuk, sepatu campur aduk di lantai maupun diatas tempat tidur.  Bangun kesiangan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, kuliahnya molor dan pulang kuliah tujuannya tidak ke rumah apabila tidak dimonitor.  Tidak peduli dengan urusan rumah, selalu menuntut haknya.</p>
<p>Pada saat itu yang terpikir dibenak saya, begitu panjangnya perjalanan menjadi orang tua dan  begitu besarnya tantangan yang kita hadapi dalam mendidik anak-anak.  Berbeda dengan anak-anak yang masih kecil, masih lebih mudah diatur, anak-anak yang beranjak remaja ternyata jauh lebih kompleks permasalahannya sehingga perlu cara cerdas untuk menghadapinya. Dan Subhanallah, dalam perjalanan tersebut Allah tak luput memberikan ujian-ujian baik berupa kesulitan maupun kemudahan.</p>
<p>Kasus tersebut adalah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi pada remaja kita, dan sejenak kita dapat mengambil kesimpulan bahwasannya sekedar pendidikan formal di sekolah yang hanya menekankan pada penguasaan mata pelajaran (akademisi) tidak akan sempurna tanpa pendidikan informal yang menekankan pada ketrampilan hidup sehari-hari di rumah. Pendidikan formal maupun informal hendaknya berorientasi pada pengajaran seluruh aspek potensi (akal, fisik, kalbu) setiap manusia agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat bagi diri individu maupun orang lain.</p>
<p><strong>MENGAJARKAN LIFE SKILL<br />
</strong>Life skill atau keterampilan hidup merupakan keterampilan yang dibutuhkan setiap individu untuk dapat survive dalam hidup dan kehidupan. Dengan keterampilan ini kita memiliki kemampuan untuk menemukan masalah, memecahkan masalah, membuat keputusan terhadap suatu pilihan dan menghindari situasi yang mungkin dapat menjatuhkan  dan memperkuat pertahanan dan ketahanan mental menghadapi masalah hidup.</p>
<p>Kita akan menjadi orang tua efektif apabila pengajaran life skill ini dimulai kepada anak-anak sejak usia dini. Layaknya seperti petani menanam padi, benih padi akan dapat dituai (dipetik) ketika sudah menjadi padi yang menguning. Kita ketahui bersama menguningnya padi membutuhkan waktu yang tidak singkat dan proses yang tepat sehingga ketika dikonsumsi manusia menjadi nasi yang enak. Sebaliknya proses yang tidak tepat  akan menyebabkan kegagalan proses penanaman sehingga kualitas berasnya juga buruk.</p>
<p>Ketrampilan hidup apa yang harus kita ajarkan? Ada  tiga point yang termasuk didalamnya:<br />
1.    Self improvement skills yaitu ketrampilan yang membangun diri anak (self esteem, managing emotion, decision making )<br />
2.    Relational skills yaitu ketrampilan yang membangun hubungan antara anak dan lingkungannya (building positive relationships, handling conflict, assertion)<br />
3.    Lifelong skills yaitu keterampilan yang membangun hidup dan masa depan anak yang bertujuan dan bermakna (goal setting, identifying intelligence/talents, the art to life meaningfully)</p>
<p>Ketrampilan hidup bukan pelajaran teori yang harus dihafalkan tetapi lebih kepada praktek melalui latihan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Mengajarkannya pun disesuaikan dengan usia dan kemampuan setiap anak. Anak usia empat tahun sudah dapat kita ajarkan untuk  mandi sendiri, menggosok giginya, mengembalikan handuk di tempatnya sehingga mereka tidak akan mengalami kesulitan  dan tergantung pada bantuan orang tua atau pembantunya.</p>
<p>Mereka berlatih menjadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.  Begitu pula dengan ketrampilan mengambil keputusan dapat kita ajarkan pada saat ia memilih pakaian, mainan, makanan dll. Dalam kegiatan bermain, kita juga dapat mengasah ketrampilan berkomunikasinya.</p>
<p>Jadi, sesungguhnya dalam aktivitas sehari-hari, banyak hal yang dapat kita jadikan sarana untuk mengajarkan ketrampilan hidup pada anak kita.  Hal ini tidak hanya berlaku untuk anak kita yang masih balita saja, sampai dewasa pun anak kita masih tetap membutuhkan pengajaran life skill sesuai dengan tingkatannya. Ketrampilan hidup yang mereka peroleh pada tahap-tahap perkembangan sebelumnya merupakan fondasi   untuk tahap perkembangan selanjutnya.</p>
<p><strong>METODE PENGAJARAN<br />
</strong>Pelajaran apapun akan sukses dengan rumus atau metode pengajaran yang tepat. Modelling atau teladan merupakan cara yang sangat penting diperhatikan orang tua , karena anak-anak belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Perkataan dan perbuatan orang tua menjadi pelajaran untuk anak apa dan bagaimanana orang tuanya hidup.</p>
<p>Reinforcement atau dorongan dibutuhkan setiap saat untuk menguatkan dan mempertahankan kebiasaan baik yang sudah terbentuk dan mendorong anak untuk bertanggung jawab terhadap perilakunya.</p>
<p>Consistency, konsisten dengan apa yang kita ajarkan  akan mengurangi kebingungan anak dan menguatkan rasa amannya terhadap peraturan yang telah disepakati.<br />
Practice, latihan kontinyu adalah upaya agar anak kita menjadi terampil. Latihan efektif, dilakukan dalam suasana yang beresiko rendah (dirumah/keluarga) sehingga anak-anak memiliki kesiapan ketika berada pada situasi diluar rumah (sekolah). Dengan latihan anak akan memiliki kepercayaan diri dimanapun dengan siapapun mereka berinteraksi.</p>
<p>Make rooms for mistake. Dalam proses belajar pasti timbul adanya kesalahan. Kita pastikan anak kita merasa aman dengan kesalahan yang dilakukan dan kita bantu untuk mengetahui kesalahannya dan mendorongnya untuk memperbaikinya.<br />
Patience, kesabaran adalah kunci yang utama untuk keberhasilan semua proses belajar.</p>
<p>Belajar Life skill berarti learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Kesuksesan hidup adalah buah dari keseriusan kita mengasah ketrampilan hidup.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika TANGGUNG JAWAB Pudar</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/03/ketika-tanggung-jawab-pudar/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/03/ketika-tanggung-jawab-pudar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 23:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Globalisasi dan modernisasi dinegeri kita saat ini telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali gaya hidup dan cara berpikir sebagian masyarakat kita. Banyak efek positif yang ditimbulkannya terutama dari aspek tehnologi namun tidak sedikit juga efek negatifnya khususnya menyangkut tatanan sosial dan budaya yang semakin hari mengalami degradasi moral. Dan kelompok yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Globalisasi  dan modernisasi dinegeri kita saat ini telah membawa banyak perubahan  dalam berbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali gaya hidup dan cara  berpikir sebagian masyarakat kita. Banyak efek positif yang ditimbulkannya  terutama dari aspek tehnologi namun tidak sedikit juga efek negatifnya  khususnya menyangkut tatanan sosial dan budaya yang semakin hari mengalami  degradasi moral. Dan kelompok yang rawan dalam hal ini adalah remaja.  Hampir setiap hari kita menyaksikan berita-berita  tentang pemakaian  narkoba, penyimpangan seksual, perkelahian/tawuran, tindakan kriminal  (mencuri, merampok) dan yang sedang hangat adalah penyalahgunaan facebook  oleh pelajar yang masih duduk dibangku sekolah SMP/SMA.</span><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Sangat  disayangkan perubahan-perubahan budaya dan sosial tersebut sering luput  dari pandangan masyarakat kita, khususnya di perkotaan, bahkan yang  terjadi adalah pemakluman atau bahkan tidak mau tahu dengan urusan tersebut </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Kalau  jaman dulu seorang anak perempuan pulang malam dianggap tabu, sekarang  pulang pagi dianggap biasa. Kissing yang hanya boleh dilakukan oleh  orang yang sudah menikah, sekarang hal tersebut adalah biasa sekalipun  itu dilakukan ditempat umum oleh orang yang  belum menikah, bahkan  tindakannya dapat lebih dari sekedar kissing. Hamil diluar nikah, aborsi  dan lari dari rumah menjadi kebiasaan bagi sebagian remaja kita yang  sedang dilanda asmara untuk bertemu pasangannya yang belum jelas asal  usul dan kepribadiaannya. Dan entah masih berapa ribu lagi remaja-remaja  kita yang terjerumus dalam jebakan modernisasi ini.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Cobalah  kita merenungkan sejenak, apa yang salah dengan ini semua? Anak kitakah?  Lingkungannya? Sistemnyakah? atau kita, orang tuanya?</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Yang  pasti kita sebagai orang tua punya andil besar. Ini adalah tantangan  kita sebagai orang tua untuk mendampingi, membimbing putra putri kita  agar  dapat survive dalam sebuah sistem yang bernama modernisasi.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">MENANAMKAN  TANGGUNG JAWAB</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Realitas  diatas menunjukkan potret kualitas mental dari generasi muda kita, dimana  perilakunya jauh dari sikap yang diharapkan yaitu <strong>tanggung jawab</strong>.  Secara psikologis, lemahnya tanggung jawab yang dimiliki remaja kita  berkorelasi terhadap  tindakan yang diambil  dan akibatnya  timbul dampak negatif terhadap diri maupun orang lain. Sikap ini sangat  merugikan khususnya bagi remaja itu sendiri. Mereka akan kehilangan  rasa percaya diri, tidak dipercayai orang lain, dan kehilangan nama  baik. So, sebagai orang tua hendaknya kita melakukan evaluasi diri,  sudahkah kita mendidik putra-putri kita untuk memiliki rasa tanggung  jawab?</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Tanggung  jawab merupakan kesadaran yang ada didalam diri seseorang bahwa tindakannya  akan memberikan pengaruh bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Dengan  tanggung jawab ini seseorang akan bertindak tepat (tidak menunggu diperingatkan),  tidak tergantung dan memiliki kepekaan terhadap orang lain.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Menanamkan  tanggung jawab tidak semudah membalikkan telapak tangan dan hasilnya  tidaklah secepat mengedipkan mata, melainkan melalui proses yang panjang  yang disebut <strong>latihan</strong> karena tanggung jawab bukanlah sesuatu yang  diturunkan secara genetis. Latihan yang efektif dapat dimulai sejak  putra putri kita masih Balita. Bukan hal yang tidak mungkin balita mempunyai  tanggung jawab, ketika kita membiasakan mereka untuk melakukan hal-hal  yang bisa mereka kerjakan sendiri, seperti makan sendiri, mandi sendiri,  memakai baju sendiri, membereskan mainannya, membuang sampah pada tempatnya,  mengembalikan barang pada tempatnya dll. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Sepertinya  sepele, dan kita cenderung tidak tega karena besarnya kasih sayang kita,  tetapi hal tersebut adalah pelajaran dasar dan awal dalam melatih tanggung  jawab putra-putri kita. Latihan ini dapat berkembang sejalan dengan  usianya dan perkembangan emosinya, bahkan pada usia tertentu (diatas  balita) mereka bisa kita libatkan dalam kegiatan rumah tangga, seperti  menyapu rumah, menyiram bunga, menjemur pakaian, mencuci piring dan  sebagainya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pada  intinya kita berikan tugas sesuai dengan kesanggupannya dan kemampuan  fisik, mental dan usianya. Tugas yang terlampau berat justru akan membuat  anak merasa tidak percaya diri karena tidak mampu menyelesaikan tanggung  jawabnya dengan baik. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Yang  penting kita perhatikan dalam melatih tanggung jawab adalah komitmen  dan penilaian yang baik. Komitmen akan terbentuk pada saat kita sebagai  orang tua dapat tampil sebagai contoh atau teladan yang bertanggung  jawab. Sebagai contoh kita melarang anak kita merokok, tetapi pada saat  yang sama kita tidak menghentikan kebiasaan merokok kita. Hal ini justru  akan menjadi peluang terjadinya kegagalan penanaman tanggung jawab.  Orang tua adalah cermin dan contoh yang paling dekat untuk ditiru anak.  Oleh sebab itu sikap dan tingkah laku kita sebagai orang tua akan memiliki  fungsi sebagai media pembelajaran bagi anak-anak. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Begitu  pula dengan penilaian yang baik, akan menjadi motivator dan meningkatkan  rasa percaya diri mereka untuk selalu lebih baik dalam melakukan usaha-usaha  yang membutuhkan tanggung jawab. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Dengan  penanaman tanggung jawab sejak dini, secara bertahap anak-anak akan  memiliki kesadaran untuk menjaga citra dirinya sesuai dengan harapan  kita orang tuanya. Mereka akan berpikir dahulu sebelum bertindak karena  tidak menginginkan timbul konsekwensi negatif atas dirinya. Kesadaran  akan sebuah konsekwensi akan mendorong mereka untuk melakukan hal-hal  yang positif dan tidak merugikan orang lain maupun dirinya.</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;"> </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">KEPERCAYAAN  ADALAH AKAR TERBENTUKNYA TANGGUNG  JAWAB</span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Sesuai  fitrohnya setiap orang ingin melakukan segala sesuatu dengan benar.  Begitu halnya dengan anak kita, mereka memiliki keinginan untuk dapat  berbuat untuk orang lain dan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan  baik dan benar.  Keraguan atau ketidakpercayaan kita kepada usaha  yang mereka perbuat akan berakibat fatal yaitu mematahkan rasa percaya  dirinya. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Pada  hakekatnya kepercayaan orang tua adalah sumber kepercayaan diri bagi  anaknya. Apabila kita percaya bahwa anak kita mampu bertindak sesuai  dengan yang diharapkan saya yakin mereka akan dapat menyelesaikan tanggung  jawabnya dengan baik. </span></p>
<p><span style="font-family: DejaVu Sans Condensed; font-size: small;">Rasa  tanggung jawab berasal dan tumbuh dari dalam kalbu, ia akan berkembang  menjadi besar karena dipupuk oleh nilai-nilai hidup yang luhur yang  lahir dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik.</span></p>
</div>
</div>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/03/ketika-tanggung-jawab-pudar/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/03/ketika-tanggung-jawab-pudar/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/03/ketika-tanggung-jawab-pudar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KETERBUKAAN KOMUNIKASI, KUNCI SUKSES ANAK HADAPI UASBN</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/02/keterbukaan-komunikasi-kunci-sukses-anak-hadapi-uasbn/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/02/keterbukaan-komunikasi-kunci-sukses-anak-hadapi-uasbn/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 08:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Putri saya sudah satu setengah bulan ini malas ke Sekolah, setiap pagi saya sulit membangunkannya. Dalam seminggu terkadang empat kali tidak masuk sekolah. Dia lebih banyak dikamarnya dan lebih banyak tidur, padahal dia dulu adalah anak yang sangat energik. Ketika saya menyuruh belajar (untuk UASBN), selalu dia marah dan melemparkan bukunya dan menangis.  Dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/02/uan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-175" title="uan" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/02/uan.jpg" alt="" width="300" height="285" /></a>Pertanyaan: </strong></em><br />
Putri saya sudah satu setengah bulan ini malas ke Sekolah, setiap pagi saya sulit membangunkannya. Dalam seminggu terkadang empat kali tidak masuk sekolah. Dia lebih banyak dikamarnya dan lebih banyak tidur, padahal dia dulu adalah anak yang sangat energik. Ketika saya menyuruh belajar (untuk UASBN), selalu dia marah dan melemparkan bukunya dan menangis.  Dia takut tidak lulus ujian.</p>
<p>Hal ini membuat saya jengkel dan marah dengan periakunya. Saya khawatir sekali karena sebentar lagi dia ujian. Ada apa dengan  anak saya, apakah itu yang dinamakan depresi dan mungkinkah remaja bisa depresi? Apa yang harus saya lakukan sebagai orang tua untuk menyiapkannya menghadapi UASBN?<br />
Ibu ND di Surabaya</p>
<p><em><strong>Jawaban:</strong></em><br />
Ibu ND yang dimuliakan Allah, saya memahami apa yang ibu khawatirkan. Melihat gejala-gejala perilaku yang ditunjukkan putri ibu sepertinya ada kecenderungan putri ibu mengalami ketidaksiapan mental untuk menghadapi ujian. Kehilangan semangat, putus asa, mengurung diri, banyak tidur, menangis/sedih, tidak punya harapan merupakan beberapa indikasi awal terjadinya depresi.</p>
<p>Depresi memang tidak mengenal usia, bisa terjadi pada siapa saja mulai dari anak kecil sampai orang tua, tidak terkecuali remaja yang memang kelompok usia rawan dalam gangguan ini. Secara teori depresi merupakan gangguan mental yang spesifik yang ditandai dengan adanya perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat, merasa bersalah, lambat dalam berpikir, dan menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas. Gangguan ini sangat serius karena akibat yang ditimbulkannya dapat membahayakan diri sendiri, selain gangguan pikiran, perasaan juga berpengaruh pada kesehatan dan yang paling parah adalah tindakan bunuh diri.</p>
<p>Berikut tanda-tanda depresi selengkapnya pada seseorang :<br />
•    Merasa sedih, cemas, dan tidak memiliki harapan<br />
•    Tidak nafsu makan, atau banyak makan yang menyebabkan penurunan maupun kenaikan berat badan dalam waktu singkat<br />
•    Terjaga di malam hari, namun tidur sepanjang siang<br />
•    Menarik diri dari teman-temannya, murung<br />
•    Aktivitas dan prestasi di sekolah menurun, menurunnya motivasi dan minat<br />
•    Mudah marah dan tersinggung, menjadi sensitif terhadap kritikan<br />
•    Rendah diri dan merasa sangat bersalah<br />
•    Konsentrasi menurun, sulit mengambil keputusan<br />
•    Adanya perubahan dalam kebiasaan makan maupun tidur<br />
•    Memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri</p>
<p>Adapun penyebabnya, pada setiap orang berbeda  karena sangat dipengaruhi oleh cara berfikir (cara pandang) seseorang terhadap suatu permasalahan dan kematangan psikologisnya (self maturity) dalam menemukan solusi.<br />
Pada beberapa orang permasalahan yang sepele bisa menjadi masalah yang sangat besar yang mengganggu pikiran, perasaan bahkan perilakunya. Banyak hal dalam kehidupan remaja yang sebenarnya biasa dalam pandangan orang tua menjadi luar biasa dalam pandangan mereka. Hal itulah yang terkadang menyebabkan remaja dan orang tuanya memiliki jarak dan hubungannya cenderung tegang dan renggang.</p>
<p>Pada kasus putri ibu, ujian merupakan masalah yang sangat besar bagi dirinya karena dia menyadari bahwa orang tuanya mempunyai harapan yang besar sehingga ada ketakutan dalam dirinya manakala terjadi kegagalan. Ketakutan-ketakutan yang irasional ini membuat putri ibu menjadi lemah jiwanya (mood) sehingga kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas khususnya yang terkait dengan belajar.  Mogok sekolah atau mogok belajar adalah salah satu bentuk solusi yang ia pilih untuk mengatasi ketakutan-ketakutannya.</p>
<p>Dengan demikian ketika ibu memaksa putri ibu untuk belajar ataupun sekolah, dia akan menolaknya karena akan merasa tidak nyaman untuk melakukan aktivitas tersebut. Memang bagi kita orang tua solusinya bukanlah solusi yang tepat, karena justru solusinya tidak akan pernah memberi solusi. Oleh karena itu sebagai orang tua kita berkewajiban untuk membantu dan mendampingi putri kita untuk mengarah pada solusi yang lebih baik.</p>
<p>Berikut beberapa saran saya untuk membantu permasalahan ibu:<br />
1.    Mengendalikan ego kita sebagai orang tua dan mulailah membuka komunikasi dengan penuh rasa emphati<br />
2.    Menjadi pendengar yang baik ketika putri kita mengungkapkan perasaannya dan hindarilah untuk memberikan kritikan atau menghakimi<br />
3.    Jangan meremehkan apa yang ia rasakan, cobalah untuk memahami bahwa apa yang ia rasakan benar terjadi<br />
4.    Pada saat ia menceritakan masalahnya sebaiknya kita tidak memotong atau interupsi ceritanya atau mengaturnya, cukup kita dengarkan saja<br />
5.    Tidak memaksa atau melakukan pressure supaya ia menjadi seperti diri kita dahulu ketika menghadapi ujian<br />
6.    Yakinkan bahwa kita sebagai orang tua selalu ada untuk mendampingi dan membantu kesulitan-kesulitannya kapanpun ketika diperlukan<br />
7.    Menjadwalkan rekreasi bersama selama beberapa kali sebagai upaya refreshing menenangkan pikiran dan perasaan dari ketidaknyamanan agar lebih rileks<br />
8.    Memotivasinya dengan menceritakan keberhasilnya orang-orang berilmu yang sukses dengan tujuan untuk membangkitkan semangat belajarnya<br />
9.    Ketika motivasi belajarnya mulai muncul, kuatkanlah ia dengan selalu memberikan sanjungan yang menyenangkan<br />
10.    Hindarkan untuk menetapkan target nilai tinggi kepadanya sesuai dengan harapan kita karena justru akan membuatnya tidak percaya diri dan berputus asa<br />
11.    Yakinkan ia bahwa ia pasti bisa menghadapi ujian tersebut dengan usaha dan doa<br />
12.    Yakinkan ia hasil apapun yang ia dapatkan adalah yang terbaik baginya dan orang tuanya<br />
13.    Yakinkan pula bahwa kita sebagai orang tua menghargai usahanya yang dilakukan dengan jujur, bukan orientasi hasil akhirnya<br />
14.    Mengajaknya untuk selalu taat beribadah kepada Allah dengan memperbanyak sholat tahajjud karena Allahlah penentu segalanya</p>
<p>Menjadi orang tua bagi remaja bukanlah hal yang mudah karena terdapat banyak tantangan. Ibu, apabila usaha yang ibu lakukan tidak menunjukkan perubahan pada putri ibu, ibu bisa meminta bantuan tenaga ahli baik psikolog ataupun psikiater untuk mendapatkan penyelesaian (terapi) yang tepat. Semoga Allah memudahkan semua urusan dan menunjukkan jalan yag benar kepada kita semua.</p>
<p><em>Wallahua&#8217;lam bishowab </em></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/02/keterbukaan-komunikasi-kunci-sukses-anak-hadapi-uasbn/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/02/keterbukaan-komunikasi-kunci-sukses-anak-hadapi-uasbn/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/02/keterbukaan-komunikasi-kunci-sukses-anak-hadapi-uasbn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>VALENTINE DAY, KEDOK SEX BEBAS</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/02/valentine-day-kedok-sex-bebas/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/02/valentine-day-kedok-sex-bebas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 22:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Febuari merupakan bulan yang identik dengan warna pink. Awal bulan ini biasanya orang sudah ramai membicarakan dan merencanakan acara spesial untuk tanggal 14 Febuari. Bahkan dunia bisnis, baik pusat-pusat perbelanjaan maupun industri film biasanya telah memulai start lebih dahulu untuk membawa pengunjungnya dalam suasana romantis dengan desain serba pink dan simbol-simbol love. Momen ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/02/valentin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-170" title="valentin" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/02/valentin.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Bulan Febuari merupakan bulan yang identik dengan warna pink. Awal bulan ini biasanya orang sudah ramai membicarakan dan merencanakan acara spesial untuk tanggal 14 Febuari. Bahkan dunia bisnis, baik pusat-pusat perbelanjaan maupun industri film biasanya telah memulai start lebih dahulu untuk membawa pengunjungnya dalam suasana romantis dengan desain serba pink dan simbol-simbol love.</p>
<p>Momen ini biasanya menjadi momen “bersejarah” bagi pasangan-pasangan kekasih (pacaran) untuk  mengabadikan cinta mereka, mengekspresikan perasaan mereka dan menghalalkan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma agama maupun norma sosial.</p>
<p>Tidak terkecuali kalangan remaja, justru kelompok umur ini di negeri kita menunjukkan perkembangan yang sangat memprihatinkan dari tahun ke tahun. Dari sejumlah survey dan penelitian yang dilakukan pada 33 provinsi tahun 2008, 63% remaja Indonesia (usia sekolah SMP-SMA) telah melakukan sex bebas (data BKKBN). Penelitian seks pranikah remaja di kota-kota besar juga menujukkan angka yang tidak kecil yaitu 47-54%. Jumlah remaja yang mengidap AIDS  sampai bulan september 2008 mencapai angka 54% dari 15.210 penderita AIDS. Nudzubillahmindalik, sungguh mengerikan&#8230;</p>
<p>Perilaku pacaran remaja di negeri kita yang mayoritas islam ini tidak ada bedanya dengan remaja-remaja di negara-negara maju. Kalau kita ingat tahun 2005 di Cianjur 11 siswa SMK dikeluarkan dari sekolah karena melakukan oral sex dikelas. Salah satu siswi sekolah tersebut juga ada yang pekerjaannya melacurkan diri sepulang sekolah. Permasalahan seperti ini hampir merata di setiap kota, tidak pandang kota besar atau kota kecil bahkan pedesaan. Ditahun 2009 saja berapa kali kita menyaksikan berita beredarnya VCD porno (seks pranikah) yang pelakunya adalah pelajar. Kota santri seperti jombang, madura, sukabumipun tidak luput dari kebebasan pergaulan.  Dalam pandangan remaja kita, pacaran tanpa seks bebas adalah kuno, tidak gaul alias jadul. Hamil diluar nikah dipandang sebagai hal yang biasa, tidak tabu, bahkan mereka tidak khawatir karena ada klinik aborsi yang siap menangani masalah mereka. Astaqfirullahaladzim&#8230;..</p>
<p>Pembaca yang budiman,  fenomena diatas sangatlah cukup untuk meningkatkan kewaspadaan kita sebagai orang tua yang memiliki putra putri yang memasuki usia pubertas. Kecintaan kita kepada putra  putri kita terkadang menjadikan kita buta mata, sehingga memberikan kebebasan kepadanya tanpa kontrol dengan dalih kita tidak ingin overprotective. Atau sebaliknya kita menjadi orang tua yang cuek karena anak kita sudah mulai tumbuh dewasa, dengan demikian bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak perlu perhatian yang lebih intens daripada ketika bayi.</p>
<p>Pembaca yang budiman, sebagai orang tua tentunya kita akan terpukul, menangis seandainya remaja kita adalah termasuk didalam remaja seperti kasus diatas. Masihkah dengan pelajaran diatas, kita tetap berdiam diri, tidak melakukan planning apapun untuk putra putri kita? Tentunya kita tidak ingin terlambat  melakukan start untuk meningkatkan kualitas pendidikan kepada putra putri yang kita cintai.</p>
<p><strong>MENDIDIK KONSEP HIDUP</strong><br />
Apabila kita mengamati perilaku pacaran remaja yang semakin bebas, bisa disimpulkan bahwa pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap agama sangat minim. Kedangkalan nilai-nilai agama menyebabkan remaja-remaja kita tidak memiliki jati diri (self concept) yang hakiki sehingga melahirkan perilaku-perilaku tidak bertanggung jawab, tidak peka terhadap orang lain maupun lingkungan.</p>
<p>Ketika putra-putri kita memasuki remaja memang banyak dinamika yang terjadi, disamping perubahan fisiknya, kejiwaan maupun pola pikirnyapun berubah dan hal tersebut adalah sunatullah. Dalam masa perubahan tersebut putra-putri kita memiliki kebutuhan untuk menemukan jati dirinya dan menunjukkan eksistensi dirinya agar ia bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Konsep dirinya akan menjadi positif manakala ia mendapatkan input-input yang positif dan sebaliknya apabila input-input negatif yang ia terima lebih banyak, maka konsep dirinya akan cenderung negatif dan melahirkan perilaku-perilaku maladaptif.</p>
<p>Keluarga yang baik, yang penuh keterbukaan, cinta kasih, saling pengertian dan saling memahami sesama anggota keluarga merupakan input positif yang akan membuahkan output anak-anak yang mempunyai konsep diri positif.<br />
Keluarga yang baik adalah keluarga dimana orang tua adalah pemimpin, teladan dan pelayan bagi putra-putrinya. Penanaman aqidah dan akhlaq merupakan menu yang utama dalam mendidik putra-putrinya. Sejak kecil anak hendaknya kita arahkan untuk mengenal konsep hidup, sehingga mereka tahu makna hidup; untuk apa mereka hidup, mengapa mereka diciptakan, bagaimana seharusnya mereka hidup dan dengan apa mereka hidup.</p>
<p>Pemahaman terhadap makna hidup, akan menjadikan putra-putri kita memiliki perasaan adanya pengawasan Allah dimanapun mereka berada sehingga ini akan menjadi parameter bagi mereka untuk menjauhi perbuatan-perbuatan haram dan membuat mereka sebagai orang yang taat beribadah. Dengan demikian mereka akan memiliki komitmen moral untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan baik.</p>
<p><strong>ORANG TUA, SUMBER INFORMASI ANAK<br />
</strong>Cinta adalah fitroh setiap manusia yang diberikan oleh Allah. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk mencintai dan dicintai. Begitu pula dengan putra-putri kita khususnya yang sedang dalam masa puber. Sebagai orang tua hendaknya kita memberikan informasi yang tepat (dalam rangka pendidikan seks), karena hal tersebut akan membantu putra putri kita mengenal seks yang benar dan bahaya seks bebas (rata-rata remaja kita mendapatkan informasi seks dari teman-temannya (16%) dan film porno (35%) dan sedikit yang dari orang tuanya (5%). Inyaallah dengan informasi yang tepat, mereka akan lebih mampu menjaga dirinya dari pengaruh pergaulan bebas.</p>
<p>Pembaca yang budiman, membangun kedekatan hubungan dengan putra-putri kita merupakan kunci untuk mengokohkah kepercayaan mereka kepada kita (orang tua).  Sehingga mereka tidak malu dan takut untuk bertanya, berkeluh kesah, curhat kepada orang tuanya mengenai hal-hal yang mereka alami.  Jangan kita biarkan putra-putri kita lebih dekat, lebih percaya kepada orang lain (lawan jenis) yang tidak jelas agamanya karena hanya akan menyisakan penyesalan.</p>
<p>Pembaca yang budiman, setelah apa yang kita bahas diatas masihkah kita memberikan lampu hijau kepada putra putri kita untuk menjalin hubungan kasih dengan lawan jenisnya? Masihkah kita menutup diri terhadap mereka? Masihkah kita rela putra-putri kita pergi meninggalkan rumah untuk merayakan sebuah hari kasih sayang (valentine day)? Jawabannya ada pada hati nurani anda.<br />
<em>Wallahua&#8217;lam bishowwab </em></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/02/valentine-day-kedok-sex-bebas/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/02/valentine-day-kedok-sex-bebas/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/02/valentine-day-kedok-sex-bebas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsultasi Online Tugas Akhir PENS-ITS Bergaya Facebook</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/01/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/01/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya &#8211; Hari gini tidak tahu Facebook? Itulah jawaban generasi sekarang kalau ditanya tahu tidaknya tentang Facebook. Situs jejaring sosial ini sepertinya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian kita. Di mana ada warnet, di situ pasti ada yang mengakses Facebook. Di mana ada remaja mengotak-atik ponselnya, di situ pula ada logo &#8216;F&#8217; berwarna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/01/prota-detik-hal-utama.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-161" title="klik untuk lihat gambar lebih besar - prota-detik-hal-utama" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/01/prota-detik-hal-utama.jpg" alt="" width="398" height="337" /></a>Surabaya</strong> &#8211; Hari gini tidak tahu Facebook? Itulah jawaban generasi sekarang kalau ditanya tahu tidaknya tentang Facebook. Situs jejaring sosial ini sepertinya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian kita. Di mana ada warnet, di situ pasti ada yang mengakses Facebook. Di mana ada remaja mengotak-atik ponselnya, di situ pula ada logo &#8216;F&#8217; berwarna putih dengan background warna biru.</p>
<p>Melihat kegandrungan masyarakat terhadap Facebook, ditangkap oleh Firman Arifin, ST.MT. untuk &#8216;meniru&#8217; ide jejaring sosial ini di kampusnya. Hanya pada saat itu belum fokus kira-kira untuk apa aplikasi itu.</p>
<p>Namun sejak diamanahi sebagai koordinator Tugas Akhir (TA) di jurusan teknik elektronika, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS-ITS),  Firman mulai merealisasikan idenya dengan membuat aplikasi &#8216;Konsultasi Online Tugas Akhir&#8217;.</p>
<p>&#8220;Saya melihat ada sesuatu yang menarik dari model Facebook ini. Selain tampilannya sederhana, tapi mempunyai magnet tersendiri bagi penggunannya. Karenanya, saya membuat konsultasi online tugas akhir ini, agar mahasiswa yang sedang tugas akhir dan dosen sebagai pembimbingnya bisa lengket seperti magnet dengan aplikasi ini,&#8221; ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima <strong>detikINET</strong>, Senin (11/1/2010).</p>
<p>Lebih lanjut, pria yang senang <em>coding</em> ini menjelaskan bahwa, &#8216;Konsultasi Online Tugas Akhir&#8217; ini bukan hanya untuk mahasiswa dan dosen pembimbingnya saja. Namun juga bisa untuk memonitor progress atau perkembangan tugas akhir.</p>
<p>&#8220;Sehingga tepatlah aplikasi ini diberi nama e-prota online. E adalah singkatan dari jurusan elektronika, sedangkan prota adalah progress tugas akhir. Atau bisa juga diartikan, Progress Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Elektronika PENS ITS secara online,&#8221; jelas Firman.</p>
<p>Ir. Rika Rokhana, MT., Ketua Jurusan Teknik Elektronika PENS-ITS menyambut baik ide dan realisasi program ini. &#8220;Semoga dengan sistem online ini, proses pembimbingan menjadi lebih baik dan lebih termonitor. Dan akhirnya output proyek akhir jadi lebih baik,&#8221; tukas wanita berjilbab ini.</p>
<p>&#8220;Kalau tahun sebelumnya jurusan tidak tahu masing-masing mahasiswa terkait progress tugas akhirnya, dan baru ketahuan pada saat pendaftaran untuk maju sidang,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Di aplikasi ini, bukan hanya manajemen yang diklaim dapat terbantu dalam monitoring tugas akhir, terlihat mahasiswa menyambut dengan antusias.</p>
<p>Salah satu komentar yang ada di &#8216;dinding umum&#8217; ditulis oleh Gagas Setya Wahyuaji, &#8220;<em>Waaaahhh.. . (tolah-toleh liat kanan kiri terkagum-kagum).. . Kalo gini g usah ke kampus deh..:-p</em>&#8220;. Begitu juga komentar dari Yus Rizal Permana, &#8220;<em>Alhamdulillah&#8230; mempermudah mahasiswa ni pak. Tidak ada alasan lagi mencari dosen pembimbing. <img src='http://www.anandyah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  matur nuwun</em>&#8220;.<br />
<strong> (	ash	/	faw	) </strong></p>
<p><a href="http://www.detikinet.com/read/2010/01/11/163858/1276032/404/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook" target="_blank">http://www.detikinet.com/read/2010/01/11/163858/1276032/404/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook</a></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/01/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/01/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/01/konsultasi-online-tugas-akhir-pens-its-bergaya-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FACEBOOK dan MAIYATULLAH</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/01/facebook-dan-maiyatullah/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/01/facebook-dan-maiyatullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 13:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Hari gini, siapa yang tidak kenal dengan Facebook. Semua orang, semua lapisan, mulai dari yang berstatus murid SD sampai mahasiswa, kalangan ibu-ibu rumah tangga, arisan PKK,  kelompok pengajian ibu-ibu bahkan pengangguran-pengangguran membicarakan tren baru ini. Tehnologi baru ini  sejenak cukup membuat kita penasaran, sehingga kita terdorong untuk mencari tahu. Kehadiran tehnologi baru ini sangat cepat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-153" title="facebook" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/01/facebook.jpg" alt="facebook" width="121" height="121" />Hari gini, siapa yang tidak kenal dengan Facebook. Semua orang, semua lapisan, mulai dari yang berstatus murid SD sampai mahasiswa, kalangan ibu-ibu rumah tangga, arisan PKK,  kelompok pengajian ibu-ibu bahkan pengangguran-pengangguran membicarakan tren baru ini. Tehnologi baru ini  sejenak cukup membuat kita penasaran, sehingga kita terdorong untuk mencari tahu. Kehadiran tehnologi baru ini sangat cepat diterima oleh masyarakat kita, bahkan Indonesia tercatat sebanyak 1,4 juta orang penggunanya (data per maret).</p>
<p>Ada satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa setiap tehnologi baru disamping memiliki kelebihan, juga tidak terlepas dari kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini sangat ditentukan oleh individu pemakainya. Sejauh mana pemakaiannya untuk mendapatkan kebaikan dan hal-hal positif, ini akan menjadi kelebihannya. Namun, ini akan menjadi kekurangan manakala pemakainya tidak memperhatikan nilai-nilai moral maupun agama, sehingga justru menjadikan individu menyimpang dari jalan yang benar.</p>
<p>Perbicangan saya dengan sejumlah ibu-ibu terkait dengan tehnologi baru ini sebagian besar berujung pada masalah kekhawatiran orang tua terhadap putra-putri mereka. Bagaimana mengantisipasi anak-anak dari hal-hal yang negatif tetapi tidak menghilangkan dorongan keingintahuan terhadap tehnologi baru?<br />
<strong><br />
MENGENALKAN ALLAH</strong><br />
Dalam shiroh kisah-kisah teladan, pada masa pemerintahan khalifah Umar Bin Khottob, ada seorang anak gembala sedang menggembalakan dombanya di padang rumput. Jumlah dombanya cukup banyak, kurang lebih 100 ekor. Pada saat Khalifah Umar melewati tempat tersebut dan melihat domba yang banyak, beliau mengatakan kepada anak gembala itu bahwa beliau akan membeli beberapa ekor domba tersebut. Apa yang dilakukan anak tersebut? Ia mengatakan bahwa domba itu bukan miliknya dan ia hanyalah penggembala. Khalifah umar tetap memaksa anak tersebut untuk menjual domba itu dan memang beliau hendak menguji anak tersebut, kemudian beliau merayu anak tersebut dengan mengatakan   bahwa majikannya tidak akan tahu. Tetapi sekali lagi anak tersebut berkata luar biasa, majikan saya memang tidak akan tahu tapi Allah maha mengetahui segalanya. Subhannallah&#8230;</p>
<p>Ini mungkin adalah hal yang langka terjadi saat ini. Terlebih ditengah-tengah kondisi yang penuh dengan materi. Tetapi ini bukan hal yang mustahil terjadi pada anak-anak kita. Semua  tergantung dari bagaimana kita sebagai orang tua untuk mengenalkan Allah pada anak-anak sejak awal. Pengenalan Allah sejak dini secara bertahap akan membentuk pemahaman dan perasaan akan kesertaan Allah setiap saaat dalam proses perkembangan mereka.<br />
Pemahaman akan makna maiyatullah (pengawasan Allah) inilah yang akan menjadi motivator utama bagi anak-anak kita untuk berkomitmen menjaga nilai-nilai moral. Bukankah kita memiliki keterbatasan penglihatan, yang tidak memungkinkan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, apa yang sedang dilakukan oleh anak-anak kita tatkala mereka di tempat yang lain?</p>
<p>Pemahaman maiyatullah ini tidak tumbuh secara instan.   Ibarat  seorang bayi yang sedang membutuhkan ASI, maka ibunya yang menyusui harus memiliki produksi ASI yang  banyak dan berkualitas agar bayinya kenyang dan otaknya berkembang maksimal. Artinya apa? Pemahaman maiyatullah ini tidak akan tumbuh manakala kita sebagai orang tua mengalami kekeringan ruhiyah. Sementara kewajiban kita adalah mengenyangkan ruhiyah/ keimanan anak-anak kita. So, kita harus memperhatikan asupan gizi untuk ruhiyah kita terlebih dahulu.</p>
<p>Cara lain yang dapat kita lakukan adalah memberikan ruang dan kesempatan kepada anak-anak kita untuk mengikuti aktivitas-aktivitas islami yang ada di sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal. Melibatkan anak-anak dalam aktivitas pengajian, mentoring, pembinaan intensif secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh bagi pola pikir mereka, sehingga anak-anak memilki orientasi hidup yang benar. Hal ini akan banyak membantu orang tua untuk mengontrol perilaku anak-anak.</p>
<p><strong>MEMBERIKAN KEPERCAYAAN</strong><br />
Kekhawatiran orang tua terhadap dampak negatif dari tehnologi internet/ facebook terkadang membuat kita bersikap protective. Dampak sikap protective adalah kita cenderung melarang anak kita  untuk dekat-dekat dengan tren baru tersebut ataupun melarang anak kita bergaul dengan teman-temannya. Ini tentunya tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru bagi kita maupun anak kita.  Anak kita mungkin menjadi gaptek, tersingkir dari pergaulan teman-temannya, bahkan terjadi konfrontasi dengan orang tuanya.</p>
<p>Sehingga yang terpenting disini adalah bagaimana orang tua bisa menjembatani kebutuhan anak-anak akan tehnologi dengan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mencobanya. Sikap orang tua memberikan kepercayaan kepada anak akan menjadi  kekuatan bagi setiap anak untuk menjaga harga dirinya dan keluarganya dengan selalu menjaga nilai-nilai moral. Dan sebaliknya, kecurigaan yang berlebihan akan mengakibatkan hubungan orang tua dan anak menjadi tidak baik, sehingga anak akan selalu berbohong dan mencuri-curi kesempatan. Memberikan kepercayaan juga bukan berarti kita memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak tanpa kontrol, melainkan didalamnya memuat adanya komunikasi yang intensif, ada perhatian, ada kontrol, nasehat dan bimbingan.</p>
<p>Insyaallah anak-anak kita pun akan dapat memberikan kepercayaannya kepada kita.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/01/facebook-dan-maiyatullah/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/01/facebook-dan-maiyatullah/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/01/facebook-dan-maiyatullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

